Kereta Ekonomi Bernomor Duduk


Dulu jaman kuliah, naik kereta api ekonomi Penataran merupakan sebuah rutinitas yang tak bisa dihindari. Gak peduli penuh sesak, gak dapat tempat duduk alias berdiri, kereta datang telat, ataupun kereta rusak, seakan menjadi suatu hal yang tak perlu dikomplain. Dalam hati memberi pengertian sendiri, hanya dengan harga 3.500 rupiah hak istimewa apa sih yang bisa kita dapat? Masih untung tiba dengan selamat :D

Sejak 1 Oktober 2011 kemarin, suasana stasiun terasa berbeda. Tumpukan penumpang hanya terjadi di luar stasiun atau di depan loket pembelian tiket. Pertama kali tahu adanya penumpukan penumpang langsung panik. Duh, bakal penuh sesak nih, harus siap saling gencet di dalam gerbong :D

Tapi ternyata setelah tiket di tangan, dan masuk bagian pemeriksaan, di dalam stasiun tidak seramai di luar. Ternyata eh ternyata, pintu hanya dibuka untuk penumpang bertiket tujuan yang keretanya akan tiba satu jam lagi. Dan, yang lebih mengagetkan adalah tiket yang saya pegang memiliki nomor gerbong dan tempat duduk. Wets, berasa naik kereta kelas bisnis.

Energi yang saya siapkan untuk bergencet-gencet di kereta akhirnya sia-sia. Lebih baik dipakai buat duduk menunggu kereta, nyemil, dan baca buku. Hehehe

Diterusin gak ya..??

Akhir-akhir ini frekuensi membaca saya mengalami penurunan yang drastis. Agaknya manajemen waktu saya perlu perbaikan. Termasuk untuk mengurusi ‘rumah’ ini juga. Tiap buka blog langsung diem, bertopang dagu, dan bilang, “mau nulis apa ya?” :D

Balik ke soal baca-membaca, sampai hari ini ada tanggungan 7 buku yang lagi currently-reading. Keliatan rakus ya kalo melahap buku, sering gak tega kalo liat buku masih terbungkus plastik. Hehe... Sebenarnya pokok permasalahannya adalah, lima di antara tujuh buku itu kemajuannya jalan di tempat, atau ada juga yang maju dua langkah mundur selangkah. Satu halaman bisa gak selesai-selesai :D

Berikut daftar buku yang mengganjal progress target baca buku saya tahun ini :D
1. The Host (Sang Pengelana) – Stephenie Meyer
2. Outliers – Malcolm Galdwell
3. How to Simplify Your Love – Werner Tiki Kustenmacher
4. A Touch of Greatness – Frank Tibolt
5. George and Sam – Charlotte Moore
6. Esperanza Rising – Pam Munoz Ryan
7. Madre – Dee Lestari


Dua buku terbawah adalah dua buku yang bulan kemarin baru dibeli, dan yah saya sering gak tega kalo buku itu masih terbungkus plastik. Kasian kalo sesak nafas :D

...

Kemajuannya sejauh ini...dua buku baru itu langsung tamat gak sampai seminggu. Buku George and Sam dengan susah payah terselesaikan, karena saya sebenarnya gak tertarik dengan cara penyampaiannya tapi kok ya penasaran. Hehe...

Saya terpaksa menyerah dengan buku How to Simplify Your Love. Sebenarnya buku ini gratisan menang kuis. Tapi karena pembahasannya bukan hal yang menarik perhatian saya, buku ini lumayan lama saya cuekin. Beberapa hari kemarin timbul hasrat menyelesaikan semua buku yang masih belum tamat. Tapi kok ya... Saya akhirnya memutuskan berhenti membaca buku yang saya tidak suka dan akan sangat tersiksa kalau harus memaksakan diri.

Tiga buku tersisa alhamdulillah maju pelan-pelan. Semoga bisa melengkapi target 50 buku yang terbaca tahun ini. Itu berarti...kurang sepuluh buku lagi *pingsan*

Nge-jazz di Gunung



Saya tidak pernah menggolongkan diri saya menggemari musik-musik tertentu. Yang enak didengerin, yang gak enak tinggal tutup kuping. Hehe...
Sabtu kemarin saya berkesempatan menikmati musik jazz, yang sebenarnya jarang banget saya dengar sehari-hari. Mungkin kalau acara itu diadakan di tempat-tempat biasanya musik jazz ditampilkan, seperti di cafe-cafe, saya mungkin akan melewatkannya. Sebenarnya saya juga jarang mengikuti live music, bisa diitung jari. Tapi karena ini diadakan di tempat yang nggak biasa, saya langsung bilang 'AYOOO' ketika diajakin :P



Sabtu, bertempat di kawasan Bromo, sekitar 2300 di atas permukaan laut, tepatnya di Java Banana Lodge. Jazz gunung diselenggarakan secara outdoor. Kirain tadinya benar-benar berlatar belakang gunung Bromo, ternyata harapan saya ketinggian. Hehehe... tapi pemandangannya masih keren.



Ini adalah penyelenggaraan konser jazz gunung yang ketiga dan merupakan yang pertama buat saya. Acara dimulai dengan penampilan grup etnik asal Probolinggo dan Madura. Kemudian resmi dibuka oleh duo host bersaudara, Djaduk Ferianto dan Butet Kertarajasa.Penampil berikutnya adalah Tohpati Ethnomission, Kua Etnika bersama Trie Utami dan Maya Hasan, Glenn Fredly, dan ditutup dengan nge-jam semua pengisi acara.



Jujur saya cuma ngerti waktu Glenn Fredly yang tampil. Secara lagu-lagunya sudah sering banget dinikmati kuping saya :D Tapi bukan berarti yang lain gak bagus. Karena baru pertama kali dengar, penampilan yang lain cuma bisa saya nikmati, tapi tak bisa ikut berdendang *halah*

Kesan saya? Dingin!!!! Yaiyalah, kalo gak dingin bukan Bromo namanya. Hehehe... Waktu duduk lesehan di atas rumput emang kerasa dingin, tapi perhatian sepenuhnya teralihkan dengan para musisi yang tampil memikat di depan. Tapi giliran mau beranjak dari tempat duduk, rasanya persendian mengalami pembekuan :(

Pengalaman saya pertama kalinya nonton acara musik di gunung, dan saya ketagihan. Sepertinya tahun depan harus kembali ke sana :)

Lebih Berani mEncoba :)

Bagaimana rasanya hidup dengan segala kenyamanan? Menyenangkan bukan? Sampai akhirnya terlena dengan segala yang kita rasa sudah terbiasa dan enggan mencoba. Sudah enak begini kenapa harus repot-repot lagi? :D

TApi ternyata rasa nyaman adalah pembunuh yang mematikan (eh, dimana-mana pembunuh ya bikin mati :D). BErkaca dari pengalaman sendiri, jika kamu adalah pemimpi bersiaplah dengan ketidaknyamanan. Karena ketidaknyamanan adalah bertumbuh. Bertumbuh artinya menjadi lebih baik, lebih dekat dengan mimpi kita. Hihihi, mulai ngaco...

Dari dulu saya terbiasa dengan kemudahan. Mau juara kelas jaman sekolah, gampang aja gitu. Pengen ini itu, orang tua juga sering nurutin. IYa sih, dengan syarat permintaannya gak macam-macam alias emang yang dibutuhin. Mungkin karena pada dasarnya saya senang belajar, senang baca buku, senang dengar orang bicara tentang kesuksesan, sesuatu yang positif, dan memotivasi. Jiwa rasanya dipenuhi dengan gelembung-gelembung semangat yang lumayan bertahan lama.

Bagaimana dengan usaha saya sendiri? Nah itu...mungkin karena terbiasa dengan kenyamanan, reaksi diri adalah berusaha semampunya, sedikit demi sedikit toh nanti tercapai. Ya, kan? :P
TApi ternyata kali ini tidak seperti yang diharapkan. Saya seakan diperingatkan. Enak aja mau ini itu kamu dengan gampang dapetin, yang lain tu harus jungkir balik dulu! Sekarang usaha sendiri, enak aja nyantai-nyantai!! Hahaha, itu sebenarnya kata-kata dari diri sendiri yang berusaha menyemangati dari dalam :))

Pernah denger satu kutipan bahwa, orang yang tidak bekerja keras di masa mudanya akan dipaksa/terpaksa bekerja keras di masa tuanya. Untuk sementara saya harus bersyukur diperingatkan sejak sekarang, bukan pas tua nanti :D Eh semoga selamanya bukan sementara aja!

Ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan kita harus berani mencoba. Berani ke luar dari zona nyaman. Jungkir balik gak karuan dan terus fokus sampai tercapai. Mencoba itu berarti memiliki kemungkinan untuk berhasil, meskipun kemungkinan gagal juga ada. Tetapi tidak mencoba hanya ada satu kemungkinan, yaitu GAGAL! :)

Ehhh, satu lagi. Semua orang pasti tidak suka dengan penolakan. Penolakan itu tidak enak. Dan saya, cenderung orang yang menghindari penolakan. Berusaha untuk kabur ketika menerima penolakan. Memutuskan untuk berhenti. Tapi untungnyaaa, keputusan berhenti itu masih rencana. Akhirnya saya 'terpaksa' berjalan terus. Ternyata lo ya, semakin banyak kita menerima penolakan, ternyata kita semakin dekat dengan kesuksesan :)

Ah, udahan curhatannya. Yuk, keep on moving!

Cinta Tanpa Syarat

Semalam waktu menyimak kata-kata bijak Mario Teguh di televisi, ada satu kalimat yang membuat saya jadi menganggukkan kepala tanda setuju. Semalam tema yang dibawakan adalah "Jika tidak Gila, Itu bukan Cinta".

Waktu itu Pak Mario bilang kalau Cinta Tanpa Syarat itu hanya milik Tuhan, yang diturunkan hanya kepada seorang ibu. Seorang ibu pasti mencintai anaknya bagaimanapun keadaannya, bagaimanapun sikapnya, bagaimanapun anak itu memperlakukan ibunya :)

Saya lagi kangen ibu. Boleh? :)
Ini hari keempat ibu menjalani 'cuti' sepuluh harinya sebagai ibu rumah tangga. Beliau sekarang sedang menikmati 'me time' bersama keluarga kecil kakak saya. Alhasil di rumah hanya tersisa saya dan abah :(

Daaaann, saya kecapekan ngurusin rumah. Dari nyapu, nyuci baju, nyuci piring, dan banyak lagi yang lainnya. Duh,baru ngerasain deh gimana tiap harinya ibu ngerjain semua ini sendirian. Belum lagi jaga toko seharian. Saya praktis biasanya bantu pas wiken. Capek ya jadi ibu rumah tangga? Kok ibu gak pernah ngeluh? :(

Saya jadi tiba-tiba menyesal kalau ingat-ingat masih sering berantem sama ibu. Gak berantem yang gimana-gimana sih, cuma masih sering membantah kalau disuruh ini-itu. Padahal gak boleh ya?

Kalau ditinggal gini jadi terasaaa banget kalau apapun yang dilakukan ibu buat keluarga adalah cinta tanpa syarat, gak berharap pamrih apalagi bayaran. Saya berharap semoga masih diberi kesempatan untuk membahagiakan ibu selagi masih bisa. Amiin :)