Thank You For not Smoking

Saya lahir dari keluarga yang tidak merokok dan entah kenapa juga tidak suka melihat orang merokok. Ini berlangsung dulu waktu saya tidak tahu persis bagaimana rokok juga dapat berpengaruh pada kesehatan orang yang tidak merokok atau sebutannya perokok pasif.
Hmm, saya tidak membenci orangnya lo.. Saya juga punya beberapa teman yang punya kebiasaan merokok. Itu sih keputusan mereka sendiri mau dimasukin apa paru-paru mereka. Tapi kalau sudah merokok di sebelah saya, hati-hati saja mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Hehehe...
Kenapa jadi malah bahas-membahas rokok sih?
Hal ini berawal dari beberapa waktu yang lalu di timeline twitter saya muncul ucapan dukacita buat seseorang yang meninggal karena menderita Bronchopneumonia Duplex, yang katanya karena dia perokok pasif.
MEskipun gak kenal, hati rasanya langsung "deg"!!
Ingatan tiba-tiba terbawa ke setahun yang lalu, saat saya dinyatakan dokter mengalami hal yang kurang lebih sama tapi dalam kategori yang cukup ringan.
Alhamdulillah saat itu kondisi saya cukup sehat, sehingga gejala yang terlihat hanya batuk-batuk kecil dan sesak nafas saat tidur dalam posisi miring ke kiri. MEskipun kata dokter cukup ringan, pengobatan saya waktu itu memakan waktu 6 bulan. Tapi cukup sedetik buat saya mengutuki keberadaan sebuah benda bernama rokok.
Mungkin ada yang tidak setuju, tapi bagi saya rokok adalah benda yang paling tidak berguna di dunia ini. Bisa disejajarkanlah dengan narkoba dan sejenisnya. Sekali lagi, orang lain boleh tidak setuju :)
Dari detikHealth saya kutip bahwa bagi perokok pasif sendiri, rokok berpotensi memberi 30 persen penyakit mematikan semacam flek paru atau kanker paru-paru.
Didapatkan lebih dari 4.000 zat kimia yang terdapat dalam asap rokok. Sedikitnya 250 zat berbahaya dan 50 diantaranya menyebabkan kanker terkandung dalam sebatang rokok.
Zat kimia tersebut seperti arsenik (logam berat beracun), benzene (bahan kimia dalam bensin), beryllium (logam beracun), kadmium (logam yang digunakan untuk baterai), etilen oksida (bahan kimia untuk mensterilkan alat medis), vinil klorida (zat toksik untuk membuat plastik) dan zat lainnya.
Dilansir dari National Cancer Institute, badan internasional untuk penelitian kanker (IARC) telah mengklasifikasikan asap rokok pada manusia sebagai karsinogen (zat penyebab kanker). Karenanya orang yang tidak merokok tapi sering menghirup asap rokok juga memiliki kemungkinan terkena kanker paru.
Gimana kami para perokok pasif ini bisa menghindar kalau para perokok sendiri enggan bertoleransi untuk tidak merokok di tempat umum atau merokok di tempat yang telah disediakan. Mereka dengan senang hati akan membagi asap beracun itu ke penjuru ruangan. Tidak mempan kalau dalam hal ini saya hanya menutup mulut pakai tisu dan pasang muka jutek. Gak banyak yang mengerti kalau saya tiba-tiba mengatakan, "Maaf, Pak! Bisa matikan rokoknya?" Yang ada mereka banyak yang tersinggung.
Sering kali kalau saya naik kereta api, dimana para perokok bertebaran dari ujung gerbong depan sampai gerbong belakang, saya lebih rela berdiri daripada menghirup asap beracun yang mereka tebarkan.
Wahai para perokok, merokoklah pada tempatnya...
**picture taken from Google**

Bahkan ada perokok yang berkata, mendingan merokok sekalian daripada jadi perokok pasif :(
aku g suka rokok T_T